Waktu Pelaksanaan Aqiqah Yang Paling Utama

Hewan aqiqah hendaklah disembelih pada hari ketujuh kelahiran bayi; dihitung mulai saat kelahiran. jika si bayi lahir pada malam hari, maka tujuh hari tadi dihitung mulai dari keesokan harinya. Sementara itu, menurut madzhab Maliki, jika si bayi Iahir sebelum fajar atau bersamaan dengan terbitnya fajar, maka hari tersebut dihitung sebagai hari pertama. Adapun jika ia lahir sesudah fajar; maka hari tersebut tidak dihitung sebagai hari pertama.

Waktu Aqiqah Menurut Madzhab Maliki

Akan tetapi, menurut versi lain dalam madzhab Maliki, baru dihitung sebagai hari pertama jika si bayi lahir sebelum matahari tergelincir; sementara jika setelah tergelincirnya matahari, maka tidak dihitung. Adapun waktu penyembelihan, maka disunnahkan di antara waktu dhuha hingga tergelincirnya matahari, dan tidak disunnahkan dilakukan pada malam hari.

 

Waktu Pelaksanaan Aqiqah Yang Paling Utama

Waktu Aqiqah Menurut Madzhab Syafi’i dan Hambali

Sementara itu, madzhab Syafi’i dan Hambali menegaskan bahwa jika aqiqah dilakukan sebelum atau sesudah hari ketujuh, maka tetap dibolehkan. Selanjutnya, dalam madzhab Hambali dan Madzhab Maliki disebutkan bahwa tidak dibolehkan melakukan aqiqah selain ayah si bayi, sebagaimana tidak dibolehkan bagi seseorang mengaqiqahkan dirinya sendiri ketika sudah besar. Alasannya, aqiqah disyariatkan bagi sang ayah, sehingga tidak boleh bagi orang lain melakukannya.

INFO LAINNYA :  Hadits Rosulullah Muhammad SAW. Seputar Aqiqah

Akan tetapi, sekelompok ulama madzhab Hambali mengemukakan pendapat yang membolehkan seseorang mengaqiqahkan dirinya sendiri. Selain itu, aqiqah juga tidak khusus pada waktu si anak masih kecil saja, tetapi sang ayah boleh saja mengaqiqahkan anaknya sekalipun telah baligh. Sebab, tidak ada batasan waktu untuk melakukan aqiqah.

Setelah membaca basmalah, hendaklah orang yang akan menyembelih hewan aqiqah membaca doa berikut, “Ya Allah, aqiqah ini anugerah dari Engkau dan saya lakukan untuk si Fulan dengan penuh keikhlasan kepada Engkau.” Bacaan ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan al-Baihaqi dengan sanad yang hasan (baik). Selain itu, Aisyah juga meriwayatkan bahwa ketika mengaqiqahkan Hasan dan Husein, Rasulullah SAW. Bersabda :

“Ya, Allah, aqiqah untuk si Fulan ini saya lakukan demi Engkau.”

Harga Paket Aqiqah Jasa Layanan Aqiqah

Makruh Mengusapkan Darah Hewan Aqiqah Ke Kepala Si Bayi

Dipandang makruh mengusapkan darah hewan aqiqah ke kepala si bayi sebagaimana adat istiadat orang Arab jahiliyah yang biasa mengusapkan darah hewan aqiqah ke kepala bayi. Dalam hal ini Sayyidah ‘Aisyah r.a. berkata, “Orang-orang Arab jahiliyah biasa mencelupkan sepotong kapas ke dalam darah hewan aqiqah, lantas mengusapkannya ke kepala si bayi. Rasulullah SAW. lantas memerintahkan untuk mengganti tradisi tersebut dengan pengusapan kunyit.”

INFO LAINNYA :  Hadits Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam Perihal Aqiqah

Dalil lain yang menunjukkan makruhnya mengusapkan darah aqiqah ke kepala bayi adalah sabda Rasulullah SAW.,

“Jika seorang anak lahir, maka hendaklah diaqiqahi. Sembelihlah hewan untuknya, dan hindarkanlah ia dari hal-hal yang menyakitinyainya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh para penyusun kitab hadits, kecuali Imam Muslim, dari ash-Shabi, serta telah ditakhrij sebelumnya. Hadits ini berarti larangan untuk membalur badan si bayi dengan darah hewan tersebut, karena hal itu akan menyakitinya. Akan tetapi, dalam sebuah riwayat disebutkan, “…maka balurkanlah darah itu ke tubuhnya.”

Lebih lanjut, Hamam juga meriwayatkan dari Qatadah dari Hasan dari Samurah, “Seorang anak itu tertawan oleh aqiqahnya yang hendaklah disembelih pada hari ketujuh kelahirannya, lantas darahnya dibalurkan ke badannya”. Riwayat ini menjadi dalil bagi Qatadah dan Hasan terhadap dianjurkannya membalurkan darah ke tubuh si bayi. Akan tetapi, lbnu Abdil Barr berkata, “Saya tidak mengetahui seorang ulama pun selain Hasan dan Qatadah yang berpendapat seperti itu. Seluruh ulama yang lain bahkan menolak dan memandang makruh perbuatan tersebut berdasarkan hadits yang dikemukakan di atas.” (al-Mughnii, jilid 8, hlm. 647)

Leave a Reply

Hubungi Admin
Please accept our privacy policy first to start a conversation.