Hukum Aqiqoh Ketika Seseorang Sudah Dewasa

Hukum Aqiqoh Ketika Seseorang Sudah Dewasa – Hukum aqiqah diri pribadi serta anak yang telah dewasa – Menurut ajaran agama Islam, akekah ialah salah 1 sunnah yang dijalankan sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT atas kelahiran bayi pada suatu keluarga, plus disunnahkan juga oleh Nabi Muhammad SAW. Salah satu dari sekian banyak keutamaam aqiqah adalah pahala yang didapatkan dikarenakan telah mengerjakan sunnah Rasulullah Muhammad SAW. serta melaksanakan prosesi ibadah sebagai bentuk syukur atas pemberian yang diberikan oleh Allah SWT. Di samping itu, akikah pun dapat mendukung orang untuk meningkatkan persaudaraan & empati kepada sesama manusia, sebab hidangan yang dimasak dari domba qurban & akekah dibagikan pada saudara, tetangga dan juga kepada mereka yang tak mampu.

Anjuran Rosulullah Muhammad SAW. Seputar Aqiqoh

  • Salah 1 hukum akekah yaitu hadits Nabi SAW. yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Tirmidzi & Imam Ibnu Majah yang artinya : “Setiap anak tergadai oleh aqiqahnya, disembelihkan (kambing) atasnya pada hari ke-7, dipotong rambutnya, dan diberi nama.”
  • Dalam hadits lainnya yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, yaitu : Dari Salman bin ‘Amir ad-Dhabiy, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda, “Akikah dilaksanakan atas kelahiran seorang anak, maka sembelihlah binatang & hilangkan seluruh gangguan.”
  • Dari Aisyah RA, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda: “Bayi laki-laki diakikahi dengan 2 kambing/domba yang sama & bayi perempuan satu kambing / domba.” Hadits tersebut shahih, & diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi, &  Ibnu Majah.
  • ‘Amr bin Syu’aib meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya yang menyampaikan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda: “Barang siapapun di antara Anda yang akan menyembelih (kambing) disebabkan lahir bayi, maka sebaiknya Dia melaksanakan untuk bayi laki-laki 2 kambing / domba yang sama dan untuk perempuan 1 kambing/domba.” Hadits itu diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, Imam Nasa’I, Imam Ahmad, dan Syaikh Abdur Razaq.
  • Sayyidah Fatimah RA. berkata bahwasanya pada saat Sayyiduna Hasan lahir, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda: “Cukurlah rambutnya dan  bersedekahlah dengan perak pada orang orang miskin setara dengan timbangan rambutnya.” Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Imam Thabrani, dan Imam Baihaqi.

 

 

Hukum Aqiqoh Dalam Islam

Para ahli fikih mempunyai pendapat yang berbeda mengenai hukum aqiqah, yang terbagi ke dalam 2 pendapat, yakni sunnah &  wajib. Dan  pendapat jumhur atau mayoritas ulama ahli fikih mengungkapkan bahwa hukum akikah ialah sunnah. Tetapi, mereka yang lapang seyogyanya tidak melalaikan ketetapan aqiqah ini, mengingat mereka diberi rizki yang lebih oleh Allah SWT. Kemudian, terdapat juga yang menyatakan bahwasanya aqiqoh merupakan ibadah yang hukumnya sunnah muakkad, yakni sunnah yang amat dianjurkan, menurut anjuran Sayyid Sabiq rahimatullah.

INFO LAINNYA :  Hukum Akekah Ketika Sudah Dewasa

Pelaksanaan Aqiqah

Seperti yang sudah Anda ketahui, aqiqah dilakukan ketika si anak telah terlahir. Kapan tepatnya waktu aqiqah dilaksanakan itu berbeda-beda, mulai dari sesudah anak lahir, tujuh hari sesudahnya (seperti sabda Rasulullah SAW. dalam salah 1 hadits di atas), 14 hari, dan  seterusnya. Oleh sebab itu, untuk Bunda dan  keluarga yang telah baligh tapi  belum diaqiqohI bertanya-tanya apa seseorang diperbolehkan diaqiqohi dikala telah dewasa? Disamping itu, Ayah Dan Bunda bisa jadi bertanya-tanya tentang hukum pelaksanaan aqiqoh diri sendiri, mengingat tak sedikit juga orang-orang yang melakukannya.

Hukum Akikah Ketika Telah Dewasa

Pertama, apakah seseorang boleh diakikahi oleh orang tuanya dikala dia telah baligh? Seperti yang telah dibahas di atas, salah satu dasar yang membahas ketetapan akekah ini menjelaskan tentang kapan waktu terbaik melaksanakan akikah, yakni pada hari ketujuh dengan menyembelihkan domba/kambing, mencukur rambut sang anak, dan memberikannya nama. Para ulama ahli fiqih menyepakati bahwa hari ketujuh sesudah lahir sang bayi ialah waktu terbaik yang dianjurkan pelaksanaan akekah. Lalu, jika tak bisa menjalankannya pada hari ke-7, apa akikah lalu menjadi gugur?

Para ahli fikih pengikut Madzhab Malikiyah menyatakan bahwa akikah menjadi gugur bila orang tua tak menjalankannya kepada hari ketujuh. Ulama ahli fiqih pengikut Imam Hambali mempunyai pandangan bahwa jikalau akekah luput dari hari tersebut, seseorang dapat melaksanakannya pada hari ke-14, maupun pada hari ke-21. Sementara itu, para ulama dari kalangan Imam Syafi’iy berpendapat bahwa akekah menjadi tanggungan orang tua si anak hingga saatnya sang anak tersebut baligh. Dengan begitu, akikah menjadi gugur seandainya anak sudah baligh. Tapi, sang anak memiliki pilihan untuk mengaqiqohi dirinya sendiri saat ia sudah dewasa.

Dan seperti yang telah dijelaskan pula. Berdasarkan pandangan sebagian besar ahli fiqih, hukum akikah ialah sunnah, &  ada jupa yang menyatakan bahwasanya aqiqah hukumnya sunnah muakkad. Syeikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimatullah menjelaskan bahwasanya akekah untuk orang laki-laki ialah dengan dua ekor kambing ataiu domba, dan untuk perempuan adalah dengan seekor kambing atau domba.

INFO LAINNYA :  Berikut Ini 3 Cara Mencari Domba / Kambing Kurban & Jasa Layanan Aqiqah

Sekiranya mencukupkan diri dengan beraqiqoh satu ekor kambing / domba untuk akekah seorang laki-laki, hal tersebut pun diperbolehkan.

Ketentuan aqiqoh ini ialah menjadi tanggung jawab orang tua sang anak (yang menjamin nafkah anak tersebut). Jikalau saat waktu yang dianjurkan untuk beraqiqoh yang dianjurkan orang tua berada dalam keadaan tak bisa, karenanya orang tua pun tidak diperintahkan untuk mengerjakan aqiqah. Sebab, Allah SWT sudah berfirman di dalam Surat At-Taghobun yang artinya: “Bertaqwalah kepada Allah semampu kalian.” Sedangkan jikalau orang tua sedang berada  dalam keadaan berkecukupan ketika waktu terbaik yang dianjurkan dianjurkannya aqiqah, maka akikah menjadi perintah buat sang ayah, bukan ibunya &  bukan pula sang anak (dikutip dari Liqo-at Al Bab Al Maftuh).

Hukum Aqiqoh Untuk Diri Sendiri

Ada perbedaan pandangan perihal hukum akikah untuk diri sendiri di kalangan para ahli fikih. Point itu dikarenakan oleh kevalidan hadits menyangkut persoalan ini, yaitu hadis yang diriwayatkan oleh Imam Baihaqi yang artinya: “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengaqiqahi dirinya sendiri sesudah Dia diutus menjadi Nabi.” Hanya saja, hadits itu dinyatakan sebagai hadis munkar.

Lalu, seperti apa dengan pendapat ulama terkait aqiqah untuk diri sendiri? Di dalam madzhab syai’iyah, Syaikh Muhammad bin Qosim al-Ghozzi, pengarang kitab Fathul Qorib syarah Matan Abu Syuja, menerangkan bahwa akekah tak mengapa apabila diakhirkan sesudah dewasa dan jikalau aqiqah diakhirkan sampai baligh, karenanya gugur tanggung jawab akikah kepada anak dari orang tua. Kemudian, setelah baligh, seorang anak memiliki pilihan untuk mengaqiqahi diri sendiri. Sebagian ahli fiqih memberikan anjuran mengaqiqahi diri sendiri, seperti yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Sirin dan  Imam Al Hasan Al Bashri.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah, Ibnu Sirin berkata: “Seandainya aku mengetahui bahwasanya aku belum diaqiqahi, Saya akan mengakikahi diriku sendiri.” Dan Al Hasan Al Bashri berkata: “Jika engkau belum diaqiqahi, maka akikahilah dirimu sendiri sekiranya kamu seorang laki-laki.”

Sementara itu, Imam Malik rahimatullah mempunyai pandangan bahwasanya mengakekahi diri sendiri tidaklah perlu. Ia berkata: “Tidak harus mengaqiqohi diri sendiri karena hadis yang membicarakan hal itu dho’if. Lihat saja para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam yang tidak diakekahi pada masa jahiliyah, apakah mereka mengaqiqohi diri mereka sendiri saat sudah masuk Islam? Jelas hal itu satu kebatilan.”

Kesimpulan

Dari takrif tersebut, bisa disimpulkan bahwasanya :

  1. Kesunnahan akekah bagi orang tua gugur dikala sang anak telah dewasa.
  2. Seseorang yang sudah dewasa tidak harus mengaqiqahi diri sendiri sebab point ini tak didukung oleh hadits yang shahih. Apalagi, akekah ialah tanggung jawab orang tua (yang dikala waktu terbaik yang dianjurkan pelaksanaan aqiqah lagi dalam keadaan berkecukupan), dan  bukanlah tanggung jawab sang anak.
  3. Jika tetap ingin mengaqiqohi saat seorang anak telah dewasa, maka dibolehkan menggunakan pandangan Hasan Al Basri & ahli fikih lainnya.

Demikian artikel Hukum Aqiqoh Ketika Seseorang Sudah Dewasa. Kami berharap tulisan berguna untuk keluarga Anda.

Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia (HPDKI)

 

 

Akekah.com terdaftar di Asosiasi Pengusaha Aqiqah Indonesia (ASPAQIN) dengan nomor registrasi 02-19-0057, dan mitra-mitra akekah.com pun sudah terregister di departemen kesehatan dan halal  Majelis Ulama Indonesia, serta terdaftar keanggotaan di Asosiasi Pengusaha Aqiqah Indonesia. Bahkan banyak juga yang terdaftar di HPDKI (Himpunan Peternak Domba dan Kambing Indonesia), Juru Sembelih Halal (JULEHA) Indonesia sehingga tidak ragu lagi untuk memilihnya. Baik dari segi pemeliharaan hewan, penyembelihan, keadaan kambing atau domba qurban & akekah, jenis layanan &  harga, sampai proses mengolah daging akekah customer yang memesan dalam bentuk catering. Beragam hal tersebut sudah didesain sedemikian rupa, sehingga memenuhi syariat. Menariknya, ketika mencari perusahaan penyedia layanan aqiqah yang recommended, terdapat layanan akikah yang lain untuk para pelanggan. Bahkan, konsumen pun bisa memesan catering akikah dengan menu yang diharapkan.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *