Hukum Aqiqah, Maksud, dan Hikmah Pensyariatannya

Hukum Aqiqah Menurut Madzhad Hanafi

Menurut madzhab Hanafi, aqiqah hukumnya mubah dan tidak sampai mustahab (dianjurkan). Hal itu dikarenakan pensyariatan kurban telah menghapus seluruh syari’at sebelumnya yang berupa penumpahan darah hewan seperti aqiqah, rajabiyah, dan ‘atirah. Dengan demikian, siapa yang mau mengerjakan ketiga hal ini tetap dipersilakan, sebagaimana juga dibolehkan tidak mengerjakannya. Penghapusan seluruh hal ini berlandaskan pada ucapan Aisyah, “Syariat kurban telah menghapus seluruh syariat berkenaan dengan penyembelihan hewan yang dilakukan sebelumnya.” (Al-Badaa’i’, jilid 5, hlm.69)

Definisi Aqiqah

Definisi Aqiqah

Aqiqah sendiri memiliki makna ‘penyembelihan hewan yang dilakukan karena kelahiran anak dan dilakukan pada hari ketujuh kelahiran.’

Secara etimologis, aqiqah berarti rambut yang ada di kepala bayi yang baru lahir. Orang-orang Arab lantas menamakan aktivitas penyembelihan hewan ketika melakukan pengguntingan rambut si bayi itu dengan aqiqah, sesuai dengan kebiasaan mereka menamakan sesuatu dengan hal yang menjadi penyebabnya atau yang berkaitan langsung dengannya.

Adapun rajabiyah didefinisikan sebagai penyembelihan seekor domba yang dilakukan oleh orang-orang Arab jahiliyah pada bulan Rajab. Dagingnya kemudian dimakan oleh anggota keluarga yang menyembelih, sementara sebagiannya dimasak lantas diberikan kepada orang lain.

Sementara itu, ‘atiirah adalah anak pertama yang lahir dari seekor unta atau domba yang kemudian disembelih; sebagian dagingnya lantas dimakan oleh si pemilik sedang sebagian lagi diberikan pada orang lain. Namun menurut pendapat lain, makna ‘atiirah adalah domba yang disembelih pada bulan Rajab dalam rangka menunaikan suatu nadzar, atau maknanya adalah tindakan menyembelih salah satu anak dari seekor domba yang melahirkan sepuluh anak.

INFO LAINNYA :  Hukum Aqiqah Ketika Seseorang Telah Dewasa

Dari ketiga pendapat ini, yang lebih kuat adalah definisi yang menyamakan antara ‘atiirah dengan rajabiyah, baik ia dilakukan karena nadzar atau tidak. Atiirah juga merupakan kebiasaan orang Arab jahiliyah.

Ibnu Suraqah berkata, “Tradisi penyembelihan hewan yang biasa dilakukan adalah dengan urutan sebagai berikut: hadyu,kurban, aqiqah, al-‘atiirah, lalu al-far’. Al-‘atiirah adalah penyembelihan hewan yang dilakukan pada sepuluh hari pertama bulan Rajab; dinamakan luga dengan Rajabiyyah. Sedangkan al-far’ adalah anak pertama dari seekor induk hewan yang tidak untuk dipelihara namun disembelih dalam rangka mengharapkan keberkahan bagi sang induk. Selanjutnya, al-‘atiirah dan al-far’ ini dipandang makruh hukum mempraktikkannya berdasarkan hadits yang diriwayatkan Bukhari, yaitu “Tidak boleh al-far’ dan al-‘atiirah”

Info Layanan Aqiqah Terbaru

Hukum Aqiqah Menurut Jumhur ‘Ulama

Menurut jumhur ulama (selain Hanafiyah), ‘atiirah dan rajabiyah tidak disunnahkan dalam Islam, sebaliknya yang disunnahkan bagi seorang ayah adalah mengaqiqahkan anaknya yang baru lahir dari harta yang ia miliki. Akan tetapi, hukum aqiqah ini tidak wajib.

(Asy-Syarhul Kabiir, Imam ad-Dardiri, jilid 2, hlm. 126; al-Qawaaniin al-Fiqhiyyah, hlm. 191; Mughnil Muhtaaj,jilid 4, hlm. 293 dan setelahnya; al-Muhadzdzab, jilid 1, hlm. 241 dan setelahnya; al-Mughnii, jilid 8, hlm. 645 dan setelahnya; dan Kasysyaaful Qinaa’, jilid 3, hlm. 20 dan setelahnya; Bidaayatul Mujtahid, jilid 1, hlm. 448 dan setelahnya.)

Landasannya adalah tindakan Rasulullah SAW, seperti yang disebutkan dalam riwayat dari Ibnu Abbas, bahwa baik ketika Hasan maupun Husein lahir; Rasulullah SAW. menyembelih untuk masing-masingnya seekor domba jantan bertanduk. (HR Abu Dawud dan an-Nasa’i. Akan tetapi, an-Nasa’i meriwayatkan, “…masing-masing dengan dua domba jantan” (Nailul Authaar, jilid 5, hlm. 135))

Lebih lanjut juga diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW. bersabda, “Jika seorang anak lahir maka hendaklah diaqiqahi. Sembelihlah hewan untuknya dan hindarkanlah ia dari hal-hal yang akan menyakitinya.” Diriwayatkan oleh para penyusun kitab hadits, kecuali Muslim, dari Salman bin Amir adh-Dhabbi (Nailul Authaar, jilid 5, hlm. 131).

INFO LAINNYA :  Apa Definisi Aqiqah Secara Istilah?

Beliau juga bersabda,”Setiap anak terkait (tergadai) dengan aqiqohnya. Hendaklah penyembelihan itu dilakukan pada hari ketujuh kelahirannya. Pada hari itu juga ia diberi nama dan rambutnya dicukur.” Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan para penyusun kitab sunan yang empat dari Samurah r.a. Adapun at-Tirmidzi menyatakan bahwa kualitas hadits ini shahih (Nailul Authaar, loc.cit.).

Menurut madzhab Syafi’i, aqiqah sunnah dilakukan oleh pihak-pihak yang wajib menafkahi si anak. Hikmah aqiqah adalah untuk mensyukuri nikmat Allah SWT karena telah dikaruniai seorang anak, membiasakan diri bersikap dermawan, serta dalam rangka membahagiakan anggota keluarga, karib kerabat, dan kawan- kawan dengan menghimpun mereka pada sebuah hidangan, sehingga akan bersemi rasa kasih sayang.

Harga Paket Aqiqah Jasa Layanan Aqiqah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Hubungi Admin