Akekah.com Siap Melayani Anda

Pesan layanan aqiqah sekarang

Produk & Layanan Akekah.com

Aqiqah Tangerang, Menu gulai

Layanan Aqiqah​

Kambing Guling Di Depok, Kambing Guling Bandung, Kambing Guling Bekasi, Kambing Guling Bogor, Kambing Guling Cisarua

Kambing Guling

Kambing aqiqah, layanan aqiqah - akekah.com

Hewan Qurban​

AREA LAYANAN (SERVICE AREA)

Klik Nama Daerah Di Bawah Ini  Berdasarkan Lokasi Anda Untuk Menghubungi Admin Akekah.com Terdekat

FASILITAS

Semua fasilitas ini sudah include dalam paket, tidak dikenakan biaya lagi.

Penyembelihan

Dapat 2 menu

Biaya Masak

Ongkos kirim*

Menyaksikan

Dokumentasi

Label Nama*

Sertifikat

*Free ongkir untuk yang masuk dalam radius pelayanan Kami, dan free label nama untuk pemesanan dengan nasi box.

Semua Tentang Aqiqah Bisa Anda Pelajari Disini

Para ulama menyatakan bahwa aqiqah menurut bahasa berarti rambut di kepala bayi yang baru lahir. Dalam arti lain, aqiqah adalah memotong. Adapun definisi aqiqah menurut istilah syara’ adalah hewan yang disembelih pada hari pencukuran rambut bayi yang baru lahir.

Ada pula yang mendefinisikan sebagai penyembelihan kambing karena kelahiran seorang bayi. Dan, masih banyak lagi definisi lain, yang pada intinya semua definisi itu mencakup dua unsur pokok, yaitu penyembelihan hewan dan dilakukan karena kelahiran seorang bayi. (Wahbah Zuhaili, Fiqih Imam Syafi’i (terjemah), jilid 1, hlm. 575, Jakarta: almahira, 2010; Fiqih Islam wa Adillatuhu (terjemah), Jilid 4, hlm. 295, Jakarta: Gema Insani, 2011)

Sejarah Aqiqah Dalam Islam
Sebelum Islam masuk ke masyarakat Arab, mereka sudah melakukan adanya menyembelih kambing atau domba untuk kelahiran anak laki-laki. Penyembelihan hewan tersebut disebut dengan aqiqah. Masyarakat Arab melakukan itu sebagai tanda syukur dan bahagia atas kelahiran anak laki-laki.
Saat itu aqiqah dilakukan dengan menyembelih hewan kambing atau domba, lalu dilanjutkan dengan mencukur rambut bayi. Setelah itu kepala bayinya dilumuri oleh darah hasil pemotongan hewan tersebut. Tetapi setelah Islam masuk dan dilarang pula oleh Nabi Muhammad Saw, kebiasaan melumuri darah tersebut saat ini sudah berubah menjadi melumur kan air dari bunga-bunga atau minyak wangi. Hal tersebut juga dijelaskan dalam hadis berikut:
“Dahulu (adat) kami pada masa jahiliah jika salah seorang di antara kami melahirkan anak, maka ia menyembelih kambing kemudian melumuri kepalanya dengan darah kambing itu. Setelah Allah menghadirkan Islam, kami menyembelih kambing, mencukur (menggundul) kepala sang bayi, dan melumurinya menggunakan minyak bayi.” (HR Abu Dawud dari Buraidah).

Diriwayatkan juga dengan hadis yang lainnya, yaitu:
“Aisyah mengatakan bahwa, ‘Dahulu orang-orang pada masa jahiliah apabila mereka beraqiqah untuk seorang bayi, mereka melumuri kapas dengan darah aqiqah, lalu ketika mencukur rambut si bayi mereka melumuri kapas dengan darah aqiqah, lalu ketika mencukur rambut si bayi mereka melumur kan pada kepalanya.’ Maka Nabi Saw bersabda, ‘Gantilah darah itu dengan minyak wangi’.” (HR. Ibnu Hibban)
Ketika Islam sudah memasuki masyarakat Arab, Nabi Muhammad Saw datang sebagai pembawa wahyu dari Allah SWT untuk menyempurnakan ibadah aqiqah. Aqiqah yang tadinya hanya dilakukan untuk seorang anak laki-laki yang baru lahir, kini anak perempuan yang baru lahir boleh melakukan aqiqah. Jika mampu aqiqah untuk anak laki-laki, maka dapat menyembelih dua ekor kambing.

Ada banyak dalil yang bisa dijadikan pijakan disunahkannya akikah, di antaranya adalah beberapa hadis berikut: Setiap anak digadaikan dengan aqiqahnya, yang disembelih untuknya pada hari ke-7 dari kelahirannya, dicukur rambutnya, dan diberi nama” (H.R. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, dan Ibnu Majah; dishahihkan oleh Tirmidzi).

Dalam hadis yang lain juga disebutkan berbunyi: Dari Aisyah bahwa Rasulullah SAW memerintahkan mereka agar beraqiqah dua ekor kambing yang sepadan (cukup umur) untuk bayi laki-laki dan seekor kambing untuk bayi perempuan.(Hadis shahih riwayat Tirmidzi.)

Berapa ekor yang harus dilakukan untuk anak laki-laki dan perempuan itu dijelaskan dalam hadis berikut dengan bunyinya: Barangsiapa di antara kalian ingin beribadah tentang anaknya, hendaklah dilakukannya; untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sama umurnya dan untuk anak perempuan seekor kambing.” (H.R. Ahmad, Abu Daud, dan Nasai).

Hukum awal ibadah aqiqah adalah sunnah muakkad. Akan tetapi menjadi wajib kalau dinazarkan sebelumnya. Misalkan ada orang tua yang mengatakan,”Kalau Saya nanti punya anak, Saya akan mengaqiqahi anak Saya.” Maka hukum aqiqah baginya adalah wajib.

Ada beberapa pendapat tentang hukum aqiqah, yaitu :

1. Mayoritas ulama ahli fikih menyimpulkan hukum aqiqah adalah sunah, bukan wajib. Bahkan menurut Madzhab Syafi’i, seandainya bayi itu meninggal sebelum berusia tujuh hari, aqiqah tetap sunnah dilakukan.

2. Menurut Madzhab Hanafi, hukum aqiqah adalah mubah (dilaksanakan tidak dapat pahala, ditinggal pun tidak berdosa).

3. Ada juga yang mengatakan wajib, yakni pendapat Imam Hasan Al-Bashri dan Imam al-Laitsy.

Dalam sebuah hadits disebutkan : Dari Aisyah bahwa Rasulullah SAW memerintahkan mereka agar beraqiqah dua ekor kambing yang sepadan (cukup umur) untuk bayi laki-laki dan seekor kambing untuk bayi perempuan.(Hadis shahih riwayat Tirmidzi.)

Pada dasarnya, aqiqah untuk anak laki – laki dan perempuan cenderung sama saja. Yang membedakan di antara keduanya adalah jumlah kambing yang dikurbankan untuk aqiqah. Aqiqah untuk anak laki – laki menggunakan dua ekor kambing, sedangkan perempuan adalah satu ekor kambing. Berikut ini adalah tata cara aqiqah untuk anak yang perlu diketahui:

1. Menyembelih Kambing

Hal pertama yang perlu dilakukan saat aqiqah adalah menyembelih kambing. Sebelum proses pemotongan dimulai, disunnahkan untuk membaca doa aqiqah, yang artinya:

“Dengan nama Allah serta dengan Allah, Aqiqah ini dari fulan bin fulan. Dagingnya dengan dagingnya, tulangnya dengan tulangnya. Ya Allah, jadikan aqiqah ini sebagai tanda kesetiaan kepada keluarga Muhammad SAW”

2. Memasak Daging Aqiqah

Ada dua pendapat mengenai daging aqiqah. Pendapat pertama mengatakan bahwa daqing aqiqah perlu dimasak dulu sebelum dibagikan kepada orang – orang sebagai sedekah. Sedangkan pendapat kedua menyarankan daging aqiqah bisa dibagikan secara mentah, sebagaimana daging kurban.

Akan tetapi, sebagian besar ulama sepakat bahwa pendapat yang mengatakan bahwa memasak daging aqiqah sebelum dibagikan adalah lebih utama dibandingkan dengan membagikannya secara mentah.

3. Memakan Sebagian Daging Aqiqah

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh al-Bayhaqi, Aisyah ra. berkata:

Sunnahnya dua ekor kambing untuk anak laki – laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Ia dimasak tanpa mematahkan tulangnya. Lalu dimakan (oleh keluarganya), dan disedekahkan pada hari ketujuh.

Dari hadits tersebut jelas bahwa daging aqiqah boleh dimakan oleh keluarga, dan sebagian lainnya bisa dibagikan kepada tetangga atau fakir miskin. Tata cara ini hampir sama dengan cara pembagian daging kurban.

4. Mencukur Rambut dan Memberikan nama

Selanjutnya, merupakan bagian dari tata cara aqiqah untuk memotong rambut bayi dan memberikan nama. Pemberian nama bayi haruslah nama yang baik. Karena hal ini menjadi cerminan dan doa mengenai akhlak dan iman anak kepada Allah SWT.

Sedangkan untuk mencukur rambut bayi pada saat aqiqah, sebagian besar ulama menganggapnya sebagai sesuatu yang Sunnah untuk dilakukan.

5. Mendoakan Bayi Saat Aqiqah

Tata cara aqiqah berikutnya adalah dengan mendoakan kebaikan kepada anak. Salah satu doa yang disunnahkan untuk dibacakan kepada bayi yang baru lahir memiliki arti:

Saya perlindungkan engkau, wahai bayi, dengan kalimat Allah yang Perkasa, dari tiap – tiap godaan syaitan, serta tiap – tiap pandangan yang penuh kebencian.

Itulah tata cara aqiqah sesuai Sunnah yang bisa Anda ikuti. Sebagian besar ulama setuju bahwa waktu terbaik untuk melaksanakan aqiqah adalah pada saat bayi sudah berumur tujuh hari. Namun, ada juga yang mengatakan bahwa aqiqah bisa dilaksanakan pada hari keempat belas atau hari kedua puluh satu setelah kelahiran bayi.

Waktu yang paling utama (afdhal) untuk melaksanakan Aqiqah adalah pada hari ke-7 dari kelahiran. Jika tidak bisa pada hari tersebut, boleh menyembelih kambing / domba aqiqah pada hari ke-14. Jika tetap tidak bisa maka boleh pada hari ke-21, dan seterusnya sampai mampu. Syaikh Wahbah Zuhaili dalam Fiqih Imam Syafi’i menyebutkan bahwa waktu pelaksanaan aqiqah berlangsung sejak hari kelahiran hingga menginjak usia baligh.

Adapun waktu penyembelihan hewan aqiqah disunahkan di antara waktu Dluha hingga tergelincirnya matahari. Tidak apa-apa jika aqiqah dilakukan sebelum hari ke-7. Pada intinya Aqiqah itu dilakukan setelah adanya sebab, yaitu kelahiran. (Wahbah Zuhaili, Fiqih Islam wa Adillatuhu (terjemah), Jilid 4, (Jakarta: Gema Insani, 2011) hlm. 297)

Sejumlah ulama mengatakan, aqiqah berfaedah memberikan mandat kepada si anak untuk memberikan syafa,at kelak kepada orang tuanya. Pendapat lainnya, aqiqah bertujuan agar fisik dan akhlak si anak tumbuh dengan baik.

Syarat hewan aqiqah sama dengan syarat hewan qurban, yaitu :

1. Termasuk Al-An’am

Yang dimaksud dengan al-an’am adalah hewan ternak seperti unta, sapi dan kambing. Sedangkan unggas seperti ayam, itik, bebek, angsa, kelinci dan sejenisnya, tidak termasuk al-an’am.

Dalilnya adalah firman Allah SWT :

وَلِكُل أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الأْنْعَامِ

Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka. (QS. Al-Hajj : 34)

2. Tsaniyah

Hewan yang sudah mengalami copot salah satu giginya (tsaniyyah). Yang dimaksud dengan gigi adalah salah satu gigi dari keempat gigi depannya, yaitu dua di bawah dan dua di atas. Boleh jantan atau betina meski diutamakan yang jantan karena bisa menjaga populasi.

3. Tidak Ada Cacat

a. Tidak Buta

Hewan itu tidak boleh yang buta tidak melihat, atau ada cacat parah di matanya, atau picak (aura’).

b. Tidak Sakit

Hewan yang dalam keadaan sakit parah tidak boleh dijadikan hewan sembelihan udhiyah.

c. Tidak Terpotong

Baik yang terpotong itu salah satu kakinya atau lebih dari satu kaki. Demikian juga hewan itu bukan hewan yang terpotong putting susunya atau sudah kering. Juga tidak boleh hewan yang terpotong pantat, ekor, telinga, hidung dan lainnya.

d. Tidak Pincang

Hewan yang dalam keadaan patah kaki hingga pincang dan tidak mampu berjalan ke tempat penyembelihannya, termasuk hewan yang tidak boleh dijadikan hewan persembahan.

e. Tidak Kurus Kering

Hewan yang kurus kering tinggal tulang belulang saja, tentu sangat tidak layak untuk dijadikan persembahan kepada Allah SWT.

Selain itu bila hewan itu kurus kering, dagingnya tentu menjadi sedikit sehingga kurang bisa dijadikan salah satu sumber makanan.

f. Tidak Makan kotoran

Hewan yang memakan kotoran dan benda-benda yang najis tentu tidak boleh dimakan dagingnya, kecuali setelah mengalami karantina, dan juga kurang layak untuk dijadikan persembahan kepada Allah SWT.

Dalam sebuah hadits disebutkan : Dari Aisyah bahwa Rasulullah SAW memerintahkan mereka agar beraqiqah dua ekor kambing yang sepadan untuk bayi laki-laki dan seekor kambing untuk bayi perempuan.(Hadis shahih riwayat Tirmidzi.)

Untuk bayi laki-laki, sempurnanya disembelihkan dua ekor kambing / domba. Sedangkan bayi perempuan, seekor kambing. Namun, pada prinsipnya, seekor kambing cukup untuk mengakikahkan bayi laki-laki maupun perempuan.

Sementara sempurnanya, seorang wali tidak dibatasi menyembelih berapa ekor kambing, unta, sapi atau kerbau. Silakan menyembelih berapapun. (Syekh Syarqwi, Kitab Hasyiyatus Syarqawi ala Tuhfatit Thullab fi Syarhit Tahrir.).

Dalam sebuah hadits disebutkan : Dari Aisyah bahwa Rasulullah SAW memerintahkan mereka agar beraqiqah dua ekor kambing yang sepadan untuk bayi laki-laki dan seekor kambing untuk bayi perempuan.(Hadis shahih riwayat Tirmidzi.)

Untuk mendapatkan kesunahan yang sempurna (akmal as-sunnah), hewan yang disembelih adalah: pertama, dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Kedua, Kambing yang akan disembelih tersebut telah memenuhi syarat sebagaimana syarat hewan kurban, yaitu sehat, tidak kurus, dan tidak cacat serta telah berusia satu tahun untuk domba dan dua tahun untuk kambing atau pernah berganti gigi. Ketiga, jika tidak mampu dua ekor kambing maka boleh dan sah beraqiqah dengan satu ekor kambing baik anaknya perempuan atau anak laki-laki.

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, di samping itu ulama Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa disunahkan beraqiqah untuk anak laki-laki dengan dua ekor kambing, sedangkan anak perempuan dengan satu ekor kambing.

Akan tetapi, boleh juga beraqiqah dengan satu ekor kambing karena ada hadis Ibnu ‘Abbas yang menyebutkan demikian.

Sedangkan ulama Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat bahwa aqiqah untuk anak laki-laki dan perempuan adalah sama, yakni cukup satu ekor kambing. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 30: 279-280); “Rasulullah Saw., pernah mengaqiqahi Hasan dan Husain (cucu beliau), masing-masing satu ekor domba”. (H.R. Abu Daud)

Untuk mendapatkan kesunahan yang sempurna (akmal as-sunnah), hewan yang disembelih adalah: pertama, dua ekor kambing untuk anak laki-laki dan satu ekor kambing untuk anak perempuan. Kedua, Kambing yang akan disembelih tersebut telah memenuhi syarat sebagaimana syarat hewan kurban, yaitu sehat, tidak kurus, dan tidak cacat serta telah berusia satu tahun untuk domba dan dua tahun untuk kambing atau pernah berganti gigi. Ketiga, jika tidak mampu dua ekor kambing maka boleh dan sah beraqiqah dengan satu ekor kambing baik anaknya perempuan atau anak laki-laki.

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata, di samping itu ulama Syafi’iyah dan Hanabilah berpendapat bahwa disunahkan beraqiqah untuk anak laki-laki dengan dua ekor kambing, sedangkan anak perempuan dengan satu ekor kambing.

Akan tetapi, boleh juga beraqiqah dengan satu ekor kambing karena ada hadis Ibnu ‘Abbas yang menyebutkan demikian.

Sedangkan ulama Hanafiyah dan Malikiyah berpendapat bahwa aqiqah untuk anak laki-laki dan perempuan adalah sama, yakni cukup satu ekor kambing. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyyah, 30: 279-280); “Rasulullah Saw., pernah mengaqiqahi Hasan dan Husain (cucu beliau), masing-masing satu ekor domba”. (H.R. Abu Daud)

Dalam melakukan aqiqah apakah mesti hewan jantan?

Tentu saja syariat tidak mensyaratkan ibadah aqiqah harus dengan hewan jantan. Islam membolehkan hewan aqiqah tidak harus jantan, tetapi boleh juga betina.

Rasulullah Saw., bersabda: “Untuk anak laki-laki (diaqiqahi) dengan dua kambing, sedangkan anak perempuan dengan satu kambing, entah itu kambing jantan maupun betina”. (HR. An-Nasai dan Abu Daud)

Dalam melakukan aqiqah apakah mesti hewan jantan?

Tentu saja syariat tidak mensyaratkan ibadah aqiqah harus dengan hewan jantan. Islam membolehkan hewan aqiqah tidak harus jantan, tetapi boleh juga betina.

Rasulullah Saw., bersabda: “Untuk anak laki-laki (diaqiqahi) dengan dua kambing, sedangkan anak perempuan dengan satu kambing, entah itu kambing jantan maupun betina”. (HR. An-Nasai dan Abu Daud)

Menurut ulama Syafi’iyah, seandainya bayi itu meninggal sebelum berusia tujuh hari, akikah tetap sunah dilakukan.

Pada dasarnya yang mendapat perintah (disunahkan) beraqiqah adalah orang tua atau wali dari si anak. Perintah ini tetap melekat di atas pundak orang tua atau wali sampai si anak mencapai baligh. Jika sudah baligh, terlepaslah titah tersebut dari orang tua atau wali.

Selanjutnya, pada masa baligh ini, orang tua atau wali dibolehkan memilih antara mengaqiqahkan atau tidak. Boleh juga si anak yang sudah baligh tersebut melaksanakan aqiqah untuk dirinya sendiri, tapi dalam hal ini ulama berbeda pendapat. Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu“Bahwasanya Nabi Saw beraqiqah untuk dirinya sendiri setelah nubuwwah (menjadi Nabi).” (Sunan Kubra, no.19273)

Imam Baihaqi menyatakan bahwa hadis ini munkar yang berarti tidak dapat dijadikan dasar hukum. Namun Syekh Zainuddin Al-‘Iraqi dalam Torhut Tatsrib menyatakan hadis ini memiliki sanad lain yang diriwayatkan oleh Abusy Syaikh dan Ibnu Hazm dari Al-Haitsam bin Jamil yang dapat dipakai sebagai dalil.

Terlepas dari status atau derajat hadis tersebut, ternyata ada beberapa atsar dari para salaf yang mengindikasikan boleh melaksanakan aqiqah untuk dirinya sendiri ketika sudah baligh. Di antaranya dari Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin, Imam Ahmad, ulama Syafi’iyah, dan sebagian Hanabilah.

Pada dasarnya yang mendapat perintah (disunahkan) beraqiqah adalah orang tua atau wali dari si anak. Perintah ini tetap melekat di atas pundak orang tua atau wali sampai si anak mencapai baligh. Jika sudah baligh, terlepaslah titah tersebut dari orang tua atau wali.

Selanjutnya, pada masa baligh ini, orang tua atau wali dibolehkan memilih antara mengaqiqahkan atau tidak. Boleh juga si anak yang sudah baligh tersebut melaksanakan aqiqah untuk dirinya sendiri, tapi dalam hal ini ulama berbeda pendapat. Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu“Bahwasanya Nabi Saw beraqiqah untuk dirinya sendiri setelah nubuwwah (menjadi Nabi).” (Sunan Kubra, no.19273)

Imam Baihaqi menyatakan bahwa hadis ini munkar yang berarti tidak dapat dijadikan dasar hukum. Namun Syekh Zainuddin Al-‘Iraqi dalam Torhut Tatsrib menyatakan hadis ini memiliki sanad lain yang diriwayatkan oleh Abusy Syaikh dan Ibnu Hazm dari Al-Haitsam bin Jamil yang dapat dipakai sebagai dalil.

Terlepas dari status atau derajat hadis tersebut, ternyata ada beberapa atsar dari para salaf yang mengindikasikan boleh melaksanakan aqiqah untuk dirinya sendiri ketika sudah baligh. Di antaranya dari Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin, Imam Ahmad, ulama Syafi’iyah, dan sebagian Hanabilah.

Pada dasarnya yang mendapat perintah (disunahkan) beraqiqah adalah orang tua atau wali dari si anak. Perintah ini tetap melekat di atas pundak orang tua atau wali sampai si anak mencapai baligh. Jika sudah baligh, terlepaslah titah tersebut dari orang tua atau wali.

Selanjutnya, pada masa baligh ini, orang tua atau wali dibolehkan memilih antara mengaqiqahkan atau tidak. Boleh juga si anak yang sudah baligh tersebut melaksanakan aqiqah untuk dirinya sendiri, tapi dalam hal ini ulama berbeda pendapat. Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu“Bahwasanya Nabi Saw beraqiqah untuk dirinya sendiri setelah nubuwwah (menjadi Nabi).” (Sunan Kubra, no.19273)

Imam Baihaqi menyatakan bahwa hadis ini munkar yang berarti tidak dapat dijadikan dasar hukum. Namun Syekh Zainuddin Al-‘Iraqi dalam Torhut Tatsrib menyatakan hadis ini memiliki sanad lain yang diriwayatkan oleh Abusy Syaikh dan Ibnu Hazm dari Al-Haitsam bin Jamil yang dapat dipakai sebagai dalil.

Terlepas dari status atau derajat hadis tersebut, ternyata ada beberapa atsar dari para salaf yang mengindikasikan boleh melaksanakan aqiqah untuk dirinya sendiri ketika sudah baligh. Di antaranya dari Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin, Imam Ahmad, ulama Syafi’iyah, dan sebagian Hanabilah.

Tanya – Jawab seputar Dzulhijjah sesi #5 mengangkat pertanyaan, Apakah Aqiqah atau Qurban Dulu dan Apakah bisa Aqiqah dan Qurban niatnya disatukan dalam 1 prosesi penyembelihan? Ustadz Adi Hidayat men jawab secara terperinci dan dalam per tanya an Semoga menjadi tambahan ilmu yang bermafaat untuk kita semua.

Mengenai permasalahan menggabungkan niat udh-hiyah (qurban) dan aqiqah, para ulama memiliki beda pendapat.

Pendapat pertamaUdh-hiyah (qurban) tidak boleh digabungkan dengan aqiqah. Pendapat ini adalah pendapat ulama Malikiyah, Syafi’iyah dan salah satu pendapat dari Imam Ahmad.

Alasan dari pendapat pertama ini karena aqiqah dan qurban memiliki sebab dan maksud tersendiri yang tidak bisa menggantikan satu dan lainnya. ‘Aqiqah dilaksanakan dalam rangka mensyukuri nikmat kelahiran seorang anak, sedangkan qurban mensyukuri nikmat hidup dan dilaksanakan pada hari An Nahr (Idul Adha).

Al Haitami –salah seorang ulama Syafi’iyah- mengatakan, “Seandainya seseorang berniat satu kambing untuk qurban dan ‘aqiqah sekaligus maka keduanya sama-sama tidak teranggap. Inilah yang lebih tepat karena maksud dari qurban dan ‘aqiqah itu berbeda.”

Ibnu Hajar Al Haitami Al Makkiy dalam Fatawa Kubronya menjelaskan, “Sebagaimana pendapat ulama madzhab kami sejak beberapa tahun silam, tidak boleh menggabungkan niat aqiqah dan qurban. Alasannya, karena yang dimaksudkan dalam qurban dan aqiqah adalah dzatnya (sehingga tidak bisa digabungkan dengan lainnya, pen).  Begitu pula keduanya memiliki sebab dan maksud masing-masing. Udh-hiyah (qurban) sebagai tebusan untuk diri sendiri, sedangkan aqiqah sebagai tebusan untuk anak yang diharap dapat tumbuh menjadi anak sholih dan berbakti, juga aqiqah dilaksanakan untuk mendoakannya.”

Pendapat kedua: Penggabungan qurban dan ‘aqiqah itu dibolehkan. Menurut pendapat ini, boleh melaksanakan qurban sekaligus dengan niat ‘aqiqah atau sebaliknya. Inilah salah satu pendapat dari Imam Ahmad, pendapat ulama Hanafiyah, pendapat Al Hasan Al Bashri, Muhammad bin Sirin dan Qotadah.

Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Jika seorang anak ingin disyukuri dengan qurban, maka qurban tersebut bisa jadi satu dengan ‘aqiqah.” Hisyam dan Ibnu Sirin mengatakan, “Tetap dianggap sah jika qurban digabungkan dengan ‘aqiqah.”

Al Bahuti –seorang ulama Hambali- mengatakan, “Jika waktu aqiqah dan penyembelihan qurban bertepatan dengan waktu pelaksanaan qurban, yaitu hari ketujuh kelahiran atau lainnya bertepatan dengan hari Idul Adha, maka boleh melakukan aqiqah sekaligus dengan niat qurban atau melakukan qurban sekaligus dengan niat aqiqah. Sebagaimana jika hari ‘ied bertepatan dengan hari Jum’at, kita melaksanakan mandi jum’at sekaligus dengan niat mandi ‘ied atau sebaliknya.”

Pendapat ini juga dipilih oleh Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah. Beliau mengatakan, “Jika qurban dan_‘aqiqah digabungkan, maka cukup dengan satu sembelihan untuk satu rumah. Jadi, diniatkan qurban untuk dirinya, lalu qurban itu juga diniatkan untuk ‘aqiqah.

Sebagian mereka yang berpendapat demikian, ada yang memberi syarat bahwa aqiqah dan qurban itu diatasnamakan si kecil. Pendapat yang lainnya mengatakan bahwa tidak disyaratkan demikian. Jika seorang ayah berniat untuk berqurban, maka dia juga langsung boleh niatkan aqiqah untuk anaknya.” Intinya, Syaikh Muhammad bin Ibrahim membolehkan jika qurban diniatkan sekaligus dengan aqiqah.


Sumber https://rumaysho.com/635-bolehkah-satu-sembelihan-untuk-qurban-dan-aqiqah.html